Oleh: Herianto, S.P. – Kader KAMMI NTB
Dalam perjalanan sebuah organisasi kader, konflik internal merupakan hal yang tidak dapat dihindari. Namun konflik akan menjadi persoalan serius ketika tidak lagi berangkat dari perbedaan gagasan, melainkan berubah menjadi perebutan pengaruh, dominasi kepentingan, dan hilangnya orientasi perjuangan. Kondisi ini menjadi tantangan yang mulai dirasakan di berbagai daerah dalam tubuh Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI).
Secara historis, KAMMI dikenal sebagai organisasi kader yang lahir dari semangat perjuangan mahasiswa, basis ideologis yang kuat, serta proses pembinaan yang panjang. Organisasi ini dibangun atas dasar nilai keislaman, intelektualitas, dan pengabdian sosial. Namun dalam dinamika saat ini, muncul gejala baru yang memunculkan kegelisahan di internal kader.
Di sejumlah daerah, konflik yang terjadi tidak lagi sekadar persoalan perbedaan strategi organisasi. Perselisihan justru berkembang menjadi fragmentasi internal yang dipengaruhi oleh kepentingan di luar organisasi. Beberapa pihak yang fokus utamanya berada di ranah partai politik mulai masuk ke ruang-ruang organisasi kader, bahkan berupaya memengaruhi arah gerakan KAMMI. Kondisi ini memunculkan pertanyaan besar: apakah KAMMI masih menjadi rumah kader, atau perlahan berubah menjadi arena perebutan kepentingan eksternal?
Persoalan semakin kompleks ketika terdapat pihak-pihak yang tidak memiliki latar belakang kaderisasi KAMMI, tetapi tampil seolah paling memahami identitas dan arah organisasi. Dalam praktiknya, mereka berupaya masuk ke dalam dinamika internal, membentuk kelompok-kelompok pengaruh, bahkan memengaruhi keputusan organisasi. Ketika keterlibatan tersebut tidak diiringi pemahaman mendalam tentang kultur kaderisasi dan nilai perjuangan, yang muncul justru potensi disorientasi organisasi.
Akibatnya, kader di tingkat bawah menjadi kehilangan arah. Organisasi tidak lagi fokus pada penguatan kapasitas intelektual, pengembangan kader, dan kontribusi sosial. Energi internal habis untuk menyelesaikan konflik, mempertahankan kubu, dan membangun narasi saling menjatuhkan.
Lebih memprihatinkan lagi, konflik internal sering kali dibungkus dengan legitimasi moral dan simbol keagamaan. Kritik berubah menjadi hujatan, perbedaan pandangan berkembang menjadi fitnah, dan diskusi bergeser menjadi gibah yang dilakukan atas nama pembelaan terhadap nilai atau tokoh tertentu. Tidak jarang muncul kesan bahwa sebagian pihak merasa paling benar, paling suci, dan paling berhak menentukan arah organisasi.
Fenomena ini tentu berbahaya bagi kesehatan organisasi. Ketika moralitas dijadikan alat pembenaran untuk menyerang sesama kader, maka ruang dialog menjadi tertutup. Budaya tabayyun, musyawarah, dan penghormatan terhadap perbedaan semakin terkikis. Organisasi yang seharusnya menjadi ruang pembelajaran justru berubah menjadi arena pertarungan ego.
Dalam perspektif akademik organisasi, konflik internal yang berkepanjangan biasanya muncul akibat lemahnya sistem regenerasi, tidak jelasnya batas antara kepentingan organisasi dan kepentingan eksternal, serta hilangnya fokus terhadap visi jangka panjang. Jika tidak diselesaikan secara struktural, konflik dapat menurunkan kualitas kaderisasi dan melemahkan legitimasi organisasi di mata publik.
KAMMI sebagai organisasi kader memiliki tantangan besar untuk menjaga independensi gerakan. Organisasi harus kembali menegaskan batas antara ruang kaderisasi dengan kepentingan politik praktis. Politik bukan sesuatu yang salah, tetapi organisasi kader harus tetap berdiri sebagai ruang pendidikan, bukan sekadar alat mobilisasi kekuasaan.
Momentum refleksi perlu dilakukan agar konflik tidak terus menjadi budaya. Kader perlu kembali pada semangat awal organisasi: membangun intelektualitas, memperkuat akhlak, dan menjaga ukhuwah. Kritik harus hadir sebagai bentuk kepedulian, bukan alat penghancuran. Perbedaan seharusnya menjadi kekuatan berpikir, bukan alasan untuk saling meniadakan.
Pada akhirnya, organisasi besar tidak runtuh karena serangan dari luar, tetapi karena kehilangan kemampuan menjaga persatuan di dalam. Jika KAMMI ingin tetap relevan sebagai organisasi kader, maka pembenahan internal, kedewasaan berorganisasi, dan keberanian untuk mengembalikan arah gerakan menjadi kebutuhan yang tidak bisa ditunda.
Pandangan Pribadi Seorang Kader KAMMI NTB
Sebagai kader KAMMI di Nusa Tenggara Barat, saya melihat bahwa konflik yang terjadi hari ini bukan lagi sekadar perbedaan pendapat biasa. Konflik yang muncul di berbagai daerah terasa berbeda dari dinamika organisasi pada masa sebelumnya. Dulu, perbedaan pandangan masih bisa diselesaikan melalui diskusi, musyawarah, dan proses kaderisasi. Namun sekarang, suasananya terasa lebih keras, lebih penuh ego, dan kadang kehilangan ruh persaudaraan.
Yang menjadi kegelisahan adalah ketika banyak pihak tiba-tiba merasa paling memahami KAMMI, padahal selama ini fokus mereka bukan membangun organisasi kader, melainkan lebih banyak bergerak di ruang politik praktis. Bahkan ada yang tidak memiliki latar belakang kaderisasi di KAMMI, tetapi masuk dan berusaha memengaruhi arah organisasi. Mereka hadir dengan narasi besar, seakan paling tahu tentang sejarah, nilai, dan arah gerakan.
Sebagai kader, tentu muncul pertanyaan: mengapa organisasi yang dibangun dari proses panjang kaderisasi bisa begitu mudah dipengaruhi oleh kepentingan di luar? KAMMI seharusnya menjadi ruang pembelajaran, tempat tumbuhnya gagasan, dan wadah kader untuk berkembang. Tetapi ketika terlalu banyak intervensi, organisasi justru kehilangan fokus.
Di lapangan, yang paling terasa adalah kader di tingkat bawah menjadi bingung. Mereka melihat konflik yang tidak selesai, saling menyalahkan, dan pertarungan antar kelompok yang terus berulang. Akibatnya, energi organisasi habis untuk persoalan internal. Program kaderisasi berkurang, ruang diskusi melemah, dan semangat gerakan perlahan menurun.
Hal yang paling disayangkan adalah ketika konflik dibalut dengan simbol moral dan agama. Ada yang menggunakan nama ustaz, tokoh, atau narasi keagamaan untuk membenarkan posisi masing-masing. Kritik berubah menjadi hujatan, perbedaan menjadi fitnah, dan diskusi bergeser menjadi saling menjatuhkan. Padahal organisasi kader seharusnya mengajarkan adab dalam perbedaan.
Dari sudut pandang saya, KAMMI tidak sedang kekurangan kader cerdas. Yang sedang dibutuhkan adalah kedewasaan dalam berorganisasi. Organisasi tidak akan maju jika terus sibuk mempertahankan ego kelompok. KAMMI akan kehilangan makna jika kader lebih sibuk mencari siapa yang salah dibanding mencari jalan keluar.
Sebagai kader KAMMI NTB, saya percaya bahwa organisasi ini masih punya masa depan. Tetapi masa depan itu hanya bisa dijaga jika semua kembali kepada niat awal: membangun kader, memperkuat intelektualitas, menjaga ukhuwah, dan menjadikan organisasi sebagai rumah bersama. Konflik boleh ada, tetapi jangan sampai membuat organisasi kehilangan arah.
KAMMI tidak boleh menjadi ruang rebutan kepentingan. KAMMI harus tetap menjadi ruang perjuangan, ruang belajar, dan ruang pengabdian. Karena organisasi besar bukan diukur dari seberapa sering konflik terjadi, tetapi dari seberapa dewasa cara menyelesaikannya.
Refleksi di Usia KAMMI yang ke-28 Tahun
Di usia KAMMI yang memasuki 28 tahun, organisasi ini telah melewati berbagai fase perjuangan. Dari gerakan mahasiswa, ruang kaderisasi, hingga kontribusi di tengah masyarakat, KAMMI memiliki jejak panjang dalam membangun kesadaran intelektual dan gerakan sosial. Namun usia yang matang juga membawa tantangan baru: bagaimana menjaga organisasi tetap sehat di tengah dinamika internal dan perubahan zaman.
Konflik bukanlah hal yang harus ditakuti. Dalam organisasi besar, perbedaan pandangan adalah sesuatu yang wajar. Tetapi konflik menjadi masalah ketika tidak lagi diarahkan untuk memperkuat gagasan, melainkan berubah menjadi pertarungan kepentingan dan saling menjatuhkan.
KAMMI dibangun bukan hanya untuk mencetak aktivis, tetapi juga membentuk karakter kader yang mampu menjaga akhlak, ukhuwah, dan tanggung jawab moral. Dalam situasi konflik, yang dibutuhkan bukan sekadar siapa yang paling kuat, tetapi siapa yang paling dewasa dalam menyikapi perbedaan.
Allah SWT mengingatkan dalam firman-Nya:
“Dan berpegang teguhlah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai.”
— QS. Ali Imran ayat 103
Ayat ini menjadi refleksi penting bahwa persatuan adalah fondasi utama dalam perjuangan. Organisasi yang besar tidak akan bertahan jika terus terpecah oleh ego kelompok dan kepentingan sesaat.
Dalam hadis Rasulullah SAW juga disebutkan:
“Seorang muslim adalah saudara bagi muslim lainnya. Ia tidak menzaliminya dan tidak membiarkannya disakiti.”
— HR. Bukhari dan Muslim
Pesan ini mengajarkan bahwa ukhuwah bukan hanya slogan, tetapi tanggung jawab moral. Dalam perbedaan pandangan, kader tetap harus menjaga adab, menghindari fitnah, menjauhi gibah, dan tidak menjadikan agama sebagai legitimasi untuk menyerang sesama.
Usia 28 tahun adalah momentum evaluasi. Bukan untuk saling menyalahkan, tetapi untuk kembali bertanya: apakah KAMMI hari ini masih berjalan sesuai cita-cita awalnya? Apakah kader masih menjadikan organisasi sebagai ruang belajar dan pengabdian, atau justru terjebak dalam konflik yang tidak produktif?
Sebagai kader KAMMI NTB, saya melihat bahwa harapan itu masih ada. KAMMI masih memiliki banyak kader yang bekerja dengan tulus, berpikir untuk umat, dan berkontribusi untuk bangsa. Tetapi harapan itu hanya akan tumbuh jika semua pihak memiliki keberanian untuk kembali merawat organisasi, bukan sekadar menguasainya.
KAMMI harus tetap menjadi rumah perjuangan. Tempat lahirnya gagasan, ruang pembinaan karakter, dan wadah pengabdian bagi umat dan bangsa. Karena organisasi yang sehat bukan organisasi yang tanpa konflik, tetapi organisasi yang mampu belajar dari konflik dan tumbuh menjadi lebih dewasa.
Di usia ke-28 tahun, KAMMI tidak hanya dituntut bertahan, tetapi juga harus terus tumbuh, beradaptasi, dan berkontribusi bagi kemajuan umat serta bangsa Indonesia.




