Ketua Umum PW KAMMI Riau: Jeratan Isu Populis, Gerakan Mahasiswa Lupa Isu Strategis Riau

Pekanbaru, 31 Juli 2026 – Ketua Umum Pengurus Wilayah Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (PW KAMMI) Riau, Febriansyah, mengungkapkan pandangannya mengenai perkembangan gerakan mahasiswa di Provinsi Riau yang dianggap kian kehilangan tradisi berpikir kritis. Dia berpendapat bahwa banyak organisasi mahasiswa saat ini lebih fokus untuk menanggapi isu-isu viral dan menggelar acara seremonial pada hari-hari penting, sementara masalah-masalah strategis yang akan mempengaruhi masa depan Riau belum menjadi prioritas utama gerakan mahasiswa.

“Gerakan mahasiswa saat ini tengah mengalami kebingungan tujuan. Kita terlalu cepat bereaksi terhadap isu yang sedang populer, tetapi lambat dalam menganalisis masalah besar yang akan mempengaruhi masa depan daerah. Mahasiswa tidak seharusnya hanya menjadi pengamat kebijakan, tetapi harus kembali berperan sebagai penghasil ide-ide yang dapat memengaruhi arah pembangunan,” ujar Febriansyah.

Ia berpendapat bahwa ada banyak persoalan strategis di Riau yang memerlukan perhatian serius melalui penelitian, analisa ilmiah, dan advokasi kebijakan.
Dari pengelolaan Blok Rupat yang sangat penting bagi masa depan sektor energi daerah, isu mengenai Dana Bagi Hasil (DBH) yang memengaruhi kemampuan fiskal pemerintah daerah, hingga keadaan APBD Riau yang selalu tertekan sehingga berdampak pada kualitas pelayanan publik serta pembangunan.

“Di mana kajian yang dilakukan mahasiswa mengenai pengelolaan Blok Rupat ke depan? Mengapa tidak ada tulisan akademik yang membahas keterlambatan dalam DBH dan pengaruhnya terhadap APBD? Kenapa ruang-ruang diskusi di kampus tidak lagi dipenuhi dengan diskusi tentang arah ekonomi Riau? ” katanya.

Ia juga memperhatikan persoalan angka putus sekolah di Provinsi Riau yang masih menjadi masalah serius.
“Ketika banyak anak Riau yang tidak bisa menyelesaikan pendidikan, seharusnya mahasiswa datang dengan data, melakukan penelitian, mengadvokasi kebijakan, serta mendampingi masyarakat. Bukan hanya menjadikan pendidikan sebagai topik seminar tahunan. “

Dalam hal lingkungan hidup, Febriansyah menilai kerusakan hutan, kebakaran lahan, degradasi kawasan konservasi, pencemaran sungai, dan penurunan kualitas lingkungan masih merupakan ancaman nyata bagi masa depan Riau.

“Riau adalah provinsi yang bergantung pada sumber daya alam, tetapi kita membiarkan kerusakan ekologi terus berlangsung tanpa adanya gerakan intelektual yang kuat untuk mengawasi kebijakan lingkungan. “

Selain itu, ia juga menyoroti kondisi pangan dan pertanian di Riau yang menurutnya semakin memprihatinkan. Di tengah dominasi perkebunan sawit, sektor pertanian pangan belum berkembang dengan baik, sehingga ketergantungan pada pasokan pangan dari daerah lain masih tinggi. Alih fungsi lahan, rendahnya minat generasi muda untuk menjadi petani, lemahnya regenerasi petani, serta kurangnya inovasi dalam pertanian merupakan tantangan besar yang harus mendapatkan perhatian serius dari akademisi dan mahasiswa.

“Setiap kali harga pangan melonjak, kita baru bersuara. Namun masalah utama sebenarnya adalah ketahanan pangan daerah yang masih lemah. Mahasiswa seharusnya meneliti cara bagaimana Riau dapat menguatkan produksi pangan lokal, melindungi lahan pertanian yang produktif, meningkatkan kesejahteraan petani, dan mengurangi ketergantungan terhadap pasokan dari luar provinsi. Jika sektor pangan terus diabaikan, Riau akan menghadapi risiko yang lebih besar apabila terjadi gangguan distribusi atau gejolak harga. “

Selain mengkritik perkembangan gerakan mahasiswa, Ketua Umum PW KAMMI Riau juga menyoroti kurangnya dukungan dari pemerintah terhadap pengembangan organisasi mahasiswa di Kota Pekanbaru.

Menurutnya, Pekanbaru sebagai ibukota Provinsi Riau dan pusat pendidikan tinggi masih kekurangan fasilitas umum yang memadai, representatif, dan gratis untuk mendukung pengembangan organisasi mahasiswa, diskusi akademis, pelatihan kepemimpinan, serta peningkatan kapasitas generasi muda.

“Sangat disayangkan, tempat publik yang dapat digunakan oleh mahasiswa semakin sedikit. Organisasi mahasiswa terpaksa berpindah-pindah, menyewa tempat, bahkan kesulitan menemukan lokasi untuk mengadakan kaderisasi. Di sisi lain, kita menyaksikan bahwa banyak aset pemerintah telah dialihkan untuk kepentingan lain salah satunya asrama haji. Sudah saatnya pemerintah daerah mempertimbangkan penyediaan tempat kegiatan mahasiswa dan kepemudaan yang benar-benar terbuka, representatif, dan dapat digunakan secara gratis. “

Febriansyah menegaskan bahwa kebangkitan Riau tidak akan muncul hanya melalui kritik yang sesaat atau tindakan yang mengikuti tren di media sosial.

“Kita perlu ada gerakan mahasiswa yang kembali mencintai perpustakaan, ruang diskusi, penelitian, dan tradisi menulis. Kita memerlukan gerakan yang mampu menghasilkan policy brief, naskah akademik, serta rekomendasi kebijakan yang benar-benar berguna bagi masyarakat. “

Ini adalah bentuk cinta, bahan renungan kita bersama semua organisasi mahasiswa di Provinsi Riau untuk menghidupkan kembali tradisi intelektual antar kampus dan antar organisasi.

“Saya mengajak semua aktivis mahasiswa di Riau untuk menghidupkan kembali ruang-ruang diskusi, meningkatkan kajian strategis, melakukan riset terhadap masalah yang dihadapi daerah, serta menciptakan kolaborasi intelektual. Jangan biarkan gerakan mahasiswa kehilangan jati dirinya sebagai kekuatan moral dan penjaga kebijakan publik. Apabila mahasiswa berhenti berpikir, maka ruang kebijakan akan dipenuhi oleh kepentingan-kepentingan sempit. Riau perlu mahasiswa yang berani berpikir besar, bekerja berdasarkan data, dan hadir dengan solusi, bukannya hanya merespons isu yang sedang ramai. “

Spread the love

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *