KAMMI: Transformasi Operasional, Bukan Transformasi Nilai

Oleh : Muhammad Ilham

Tulisan ini sifatnya refleksi.

Muktamar KAMMI ke-XIV di Ambon, Maluku, menjadi penanda fase baru dalam perjalanan perjuangan Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI). Forum tersebut tidak hanya menjadi ruang konsolidasi kepemimpinan, tetapi juga momentum untuk memperkuat konsolidasi gagasan nasional.

Bagi saya, konsolidasi gagasan nasional merupakan titik awal transformasi KAMMI. Transformasi tersebut diperlukan agar organisasi tidak terjebak dalam praktik-praktik lama yang justru menghambat lahirnya kader-kader yang memiliki nalar kritis, kapasitas intelektual, dan keberanian untuk menawarkan pembaruan.
Organisasi yang besar tidak akan berkembang apabila ruang dialog dan pembaruan dibatasi oleh pola-pola lama yang tidak lagi relevan dengan tantangan zaman.

Dalam mencermati dinamika internal KAMMI saat ini, saya mencoba melihatnya melalui perspektif siklus sejarah. Sejarah menunjukkan bahwa banyak peradaban mengalami perubahan signifikan ketika memasuki usia sekitar tiga dekade. Dalam sejarah Islam, misalnya, masa Khulafaur Rasyidin yang berlangsung sekitar 30 tahun menjadi penanda berakhirnya satu fase kepemimpinan dan dimulainya fase baru dengan karakter yang berbeda. Analogi ini memberikan pelajaran bahwa perubahan merupakan bagian dari proses sejarah yang tidak dapat dihindari.

Karena itulah, saya meyakin bahwa dinamika KAMMI di usia 28 tahun, adalah penanda akselerasi nalar kritis kader serta gelombang menuju punca jaya KAMMI.

Bagi saya, dinamika yang terjadi bukan soal figuritaas personal karena mereka sifatnya periodik, namun ada hal mendasar yang saya sebut dengan istilah diskontinuitas gagasan. Praktek feodalis, intervensi pihak eksternal pada forum² strategis KAMMI menujukan bahwa hal tersebut tidak relevan dan menghambat nalar kritis kader.

KAMMI harus mampu menjawab tantangan zaman, gerakan adaptif, inklusif, terhadap perbedaan pandangan, adalah titik star menuju puncak KAMMI Jaya. Semangat inilah yang mendorong banyak kader untuk menginginkan transformasi dalam tubuh KAMMI.

Namun demikian, transformasi yang dimaksud bukanlah transformasi terhadap nilai-nilai dasar KAMMI. Nilai-nilai KAMMI merupakan fondasi ideologis organisasi sekaligus sumber semangat perjuangan dakwah yang tidak boleh ditinggalkan. Yang perlu ditransformasikan adalah aspek operasional organisasi, yaitu tata kelola, budaya organisasi, pola komunikasi, mekanisme pengambilan keputusan, dan sistem kaderisasi agar lebih profesional, transparan, partisipatif, dan sesuai dengan perkembangan zaman.

Di penghujung tulisan ini saya ingin memberi pesan secara kolektif bahwa transformasi bukan berarti meninggalkan jati diri. Sebaliknya, transformasi adalah ikhtiar untuk menjaga relevansi organisasi tanpa kehilangan nilai-nilai perjuangannya. KAMMI harus tetap kokoh pada prinsip, tetapi berani memperbarui cara bergerak. Sebab, organisasi yang mampu bertahan bukanlah organisasi yang menolak perubahan, melainkan organisasi yang mampu beradaptasi tanpa kehilangan identitasnya.

Spread the love

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *