Milad ke-28 KAMMI: Antara Selebrasi dan Ujian Kesetiaan pada Jalan Perjuangan

Oleh : Anjar fadillah (KAMMI Jambi)

Di usia ke-28, Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia berdiri di titik yang tidak lagi memberi ruang untuk basa-basi sejarah. Ini bukan sekadar milad ini momen penghakiman terhadap diri sendiri: apakah kita masih menjadi gerakan, atau telah berubah menjadi sekadar organisasi?

Ucapan selamat tidak boleh menjadi pelarian dari kenyataan. Sebab di tengah usia yang semakin matang, justru pertanyaan paling mendasar harus diajukan: sejauh mana KAMMI masih setia pada khitah perjuangan? Apakah keberanian masih hidup, atau telah digantikan oleh kompromi? Apakah kader masih menyatu dengan denyut rakyat, atau justru terjebak dalam lingkaran elitisme yang menjauh dari realitas?

Refleksi ini menjadi semakin tajam ketika kita mengingat peringatan keras dari Tan Malaka:
“Bila kaum muda yang telah belajar di sekolah dan menganggap dirinya terlalu tinggi dan pintar untuk melebur dengan masyarakat yang bekerja dengan cangkul dan hanya memiliki cita-cita yang sederhana, maka lebih baik pendidikan itu tidak diberikan sama sekali.”

Ini bukan sekadar kutipan ini adalah cermin. Cermin yang memaksa kita melihat wajah gerakan hari ini. Jika kader lebih sibuk membangun citra daripada membangun kesadaran, jika diskusi hanya berhenti di ruang nyaman tanpa keberanian turun ke realitas, maka kita sedang mengkhianati esensi perjuangan itu sendiri.

Realitas bangsa hari ini tidak sedang baik-baik saja. Ketimpangan sosial semakin tajam, kebijakan publik sering kali menjauh dari kepentingan rakyat, dan ruang kritik makin dipersempit secara halus namun sistematis. Dalam situasi seperti ini, tidak ada tempat bagi gerakan yang setengah hati. Tidak ada ruang bagi kader yang apatis.

Harapan di milad ke-28 ini tidak boleh ringan. KAMMI harus kembali menjadi kekuatan yang resisten terhadap kooptasi, berani melawan arus pragmatisme, dan tegas dalam keberpihakan. Kader-kadernya harus menjadi intelektual pejuang yang tidak hanya mampu membaca realitas, tetapi juga mengubahnya. Yang tidak hanya bersuara, tetapi juga mengorganisir dan menggerakkan.

Jika usia 28 ini hanya diisi dengan seremoni tanpa refleksi, maka kita sedang berjalan menuju kemunduran yang sunyi. Namun jika momentum ini dijadikan titik balik untuk membangun militansi, memperkuat ideologi, dan menegaskan keberpihakan maka KAMMI akan tetap relevan sebagai lokomotif perubahan.

Selamat Milad ke-28 KAMMI.
Jangan jinak. Jangan diam. Jangan netral.
Karena dalam ketidakadilan, netralitas adalah bentuk lain dari keberpihakan pada penindasan.

Hidup mahasiswa! Hidup rakyat Indonesia!

Spread the love

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *