Oleh: Ikmal Maulana
“Tempat teraman bagi sebuah kapal adalah di dermaga, tetapi bukan untuk itu ia diciptakan.”
Sebuah kapal tidak dirakit dengan simetri yang presisi dan lambung yang tangguh hanya untuk mematung di pelabuhan. Kayu-kayu direkatkan dan jangkar ditempa bukan agar ia bisa bermanja pada riak air yang tenang dan dinikmati keindahannya oleh orang-orang di pesisir. Sebaliknya, kapal diciptakan untuk sebuah takdir yang lebih menantang: membelah ombak, menantang badai, dan menaklukkan luasnya samudra.
Dalam napas filosofis yang sama, begitulah semestinya kita memaknai Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI).
Galangan Kapal Bernama Tajnid
KAMMI adalah rumah, sebuah galangan tempat kapal-kapal peradaban itu ditempa. Dengan berasaskan nilai-nilai Islam yang paripurna, sistem kaderisasi di dalamnya dirancang untuk membangun fondasi yang kokoh. Para kadernya dibekali dengan kompas ilmu pengetahuan yang melintasi zaman, disiapkan untuk menjadi penggerak yang menebar manfaat bagi semesta.
Apakah kapasitas intelektual dan spiritual yang sedemikian besar itu hanya akan menjadi tinta mati di atas buku panduan kaderisasi? Apakah potensi sebesar itu hanya akan dibiarkan bersandar dalam ruang kontribusi yang sempit dan terbatas?
Menolak Terjebak pada Satu Pesisir
Sudah saatnya kita melihat KAMMI melalui kacamata “Kapal dan Dermaga”. Organisasi ini dibentuk bukan sekadar untuk menyolek individu agar terlihat saleh secara personal. KAMMI juga bukan pabrik yang mencetak manusia ke dalam satu cetakan warna yang monolitik, memaksa kadernya untuk berlabuh di pemberhentian yang sama, berkarya di ruang yang seragam, atau mengabdi melalui satu patron yang kaku.
Samudra bernama Indonesia dan dunia global secara keseluruhan terlalu luas dan kompleks jika hanya diarungi dengan satu perahu kecil. Ruang gerak kebangsaan terlalu besar jika hanya dibatasi dan ditambatkan pada satu kendaraan politik saja. Kader-kader KAMMI harus berani melepaskan tali sauhnya, menyebar ke berbagai penjuru spektrum kehidupan, dan membawa nilai-nilai perbaikan di mana pun mereka membuang sauh.
Pulang ke Dermaga, Kembali pada Khitah
Meski demikian, hukum alam sang pelaut tetap berlaku: sejauh apa pun sebuah kapal berlayar mengarungi samudra, ia akan selalu merindukan dan mengenang jalan pulangnya menuju dermaga.
Bagi KAMMI, dermaga itu adalah identitas dan karakter utama geraknya. Dermaga adalah tempat kembali untuk mengisi ulang perbekalan spiritual dan intelektual. Oleh karena itu, sudah waktunya KAMMI dikembalikan pada dua poros utamanya:
- Harakatul Tajnid (Ruang Pengkaderan): Dermaga tempat merakit dan memperbaiki kualitas diri secara terus-menerus.
- Harakatul A’mal (Ruang Pengkaryaan): Samudra tempat membuktikan kualitas amal dan kerja nyata di tengah-tengah umat.
Bentala ini masih sunyi dari kontribusi yang tulus. Ada peradaban yang menunggu untuk diperbaiki, ada ombak zaman yang harus ditaklukkan. Maka, angkatlah jangkarmu, rentangkanlah layar itu. Beranjaklah segera, wahai putra-putri terbaik negeri. Samudra menunggu KAMMI!




